Saya sudah menyelesaikan semua kulaih mayor dan minor saya. Hmmm... Kini saya sedang merasakan menjadi pengangguran. Hahaha. Nggak ada kerjaan!!! Rencana saya mungkin akan melanjutkan sekolah. Pilihannya sampai saat ini ada UI, ITB, atau UGM (UI = Universitas IPB, ITB = Institut Tani Bogor, UGM = Universitas Gunungbatu Mbogor) hahaha... Karena baru sebatas rencana, jadi pikiran saya baru sebatas akan melanjutkan di IPB alias belum ada opsional lain. Kenapa sih saya mau di IPB lagi? Soalnya kalau masalah kualitas, sekolah pascasarjana IPB great banget. Bukan hanya karena sekolah pascasarjana IPB adalah sekolah pascasarjana pertama di Indonesia, tapi juga karena jumlah dan kualitas riset salah satu yang tertinggi di Indonesia (saya kan dari SMA suka dunia riset heheh...) dan juga mayor pertanian yang ada di IPB adalah yang terlengkap di Asia Tenggara. Selain itu, sejak tahun 1970an hingga saat ini, IPB bersama ITB, UI, dan UGM dijuluki sebagai salah satu Center of Excellence. Yah, bisa dibilang saya bangga dan bersyukur bisa mendulang ilmu di IPB.
"TAPI", saya agak ehem... Rada-rada deg-degan kalau mau masuk di IPB lagi. Hahaha. Soalnya saya sudah merasakan susahnya mendulang di sini. Hahaha. Iklim kompetisi, disiplin yang ketat, dan standar akademik yang tinggi bikin saya ngesot-ngesot (untung nggak di tendang satpam, haha). Meskipun demikian, hal itulah yang membuat IPB beda dengan yang lainnya. Aturan di IPB itu tidak pandang bulu. Lihat saja kasus Marissa Haque kemarin, karena memakai gelar doktor padahal belum doktor, beliau sempat diskorsing selama satu semester. Bahkan kata dosen saya, waktu lagi curcol, katanya dulu anak presiden Soeharto juga pernah punya kasus. Meski dengan bermacam-macam lobi dan negosiasi, IPB tetap keukeuh menegakkan aturannya. Kita tahu sendiri kan, di era orde baru kemarin itu seperti apa.
Btw nih ya, ngomong-ngomong masalah seleb, nggak tahu kenapa akhir-akhir ini nama IPB sering di bawa-bawa. Jika kemarin-kemarin ada masalah dengan Marissa Haque, sekarang salah satu alumni IPB yang juga seleb bernama Zumi Zola lagi ada kasus. Yah namanya juga seleb dan dunia infotaiment yang dekat dengannya, akhirnya nama IPB keseret juga di dalamnya. Huhuhu. Sebenarnya nggak apa-apa sih, cuma beginilah dunia komunikasi massa. Kalau IPB punya seribu prestasi, bukanlah berita bagus. Namun, kalau ada satu berita buruk, itu jadi berita bagus. Huhuhu. Miris banget tiap baca di forum atau blog tetangga sebelah yang berstereotipe dengan almameterku ini. Komentar mereka agak yah begitulah. Padahal ni yah, apapun almamaternya minumnya *tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit #sensor hahaha. Maaf banyak becanda. Maksud saya apapun almamaternya, semua orang juga bisa berbuat salah. Lagian kenapa harus bawa-bawa almamater? Hehehe. Yah saya cuma bisa berdoa, semoga masyarakat semakin cerdas. Oh ya, buat keluarga besar IPB baik alumni, mahasiswa, staff, dan seluruh stakeholder-nya, jaga baik-baik nama IPB kita. Jangan bertingkah aneh-aneh dah. Kasihan institusi kita soalnya bumi kita masih menganut faham karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hehehe.
Jumat, 27 Januari 2012
PENGEN KULIAH LAGI
Rabu, 25 Januari 2012
POTRET NEGERIKU BELAKANGAN INI
Dengar berita akhir-akhir ini rasanya sediiiiiih banget. Gimana nggak? Semua beritanya ekstrim-ekstrim. Jadi serbah salah. Naik pesawat, jatoh. Naik kapal, tenggelam. Naik kereta, kecopetan. Naik busway, pelecehan. Naik ojeg, ugal-ugalan. Naik angkot, diperkosa. Naik taksi, dirampok. Naik sepeda, diserempet. Naik bajaj, polusi. Jalan kaki, ditabrak mobil. Bahkan ngesot pun harus ditendang satpam. Huhu... Tinggal nunggu berita aneh dari becak dan delman maka lengkaplah sudah potret negeriku yang bukan cuma karena di sinilah letak surga dunia tapi juga neraka dunia #prayforindonesia
SAYA MEMILIH KARIR
Tulisan ini saya buat karena akhir-akhir ini kuping saya tebal mendengar ocehan teman-teman dekat. Ocehan mereka ialah menanggapi pilihan hidup saya. Ocehan itu mengunung ketika dua orang teman dekat memutuskan untuk segera menikah dan satu orang teman saya baru saja menikah. Belum lagi teman-teman dekat yang lain sudah memiliki "teman jalan". Entah mengapa di tingkat akhir isu ini begitu hangat untuk diperbincangkan dan mengapa saya sering menjadi objek yang malang dari forum mereka? Bukankah dari dulu sudah jelas kalau saya orang yang selalu mengejar cita-cita? Saya memilih menomor satukan karir. Saya sudah membuat prioritas bahwa saya harus mapan dulu baru mau menjalin hubungan dan saya akui memang terlalu banyak godaan dalam mempertahankan prinsip ini. Namun ada hal yang membuat saya selalu tersadar ketika godaan itu menghantui yaitu rasa malu jika harus masih meminta kepada keluarga hanya untuk menghidupi diri dan orang lain. Bagi saya, waktu itu akan ada dan saya sedang membuat fondasi untuk hari itu. Saya hanya ingin tidak merugikan dan tidak merepotkan siapapun dan itulah saya. Yah... Bisa dibilang saya cuma nggak suka dijadikan objek sebuah simbol kemalangan karena saya sudah merancang ini semua sejak lama dan saya merasa nyaman dengan kehidupan saya tanpa ada beban meski memang terasa memberatkan hati dengan godaan-godaan di sekitar saya. Yaudahlah ya... Berpegang teguh aja sama prinsip dan selalu menghibur hati di kesendirian ini dengan moto saya percuma keren kalau kere karena makan ganteng nggak bikin kenyang. Hehehe.
KENAPA TIDAK MAKAN NASI?
Well, itulah yang sering orang tanyakan kepada saya. Alasan utamanya bukan karena diet (kalau diet itu alasan nomor sekian hahaha) tapi karena perut saya gampang sekali merasa penuh dengan makan nasi. Saya akan menjadi orang yang malas beraktivitas bila perut saya terasa penuh. Pokoknya ada hasrat selalu ingin rebahan dan saya tahu itu tidak sehat. Alasan sub utamanya ialah saya kan masak sendiri, sayangnya hama Sitophylus sangat wah banget di kediaman saya saat ini. Saya sering merasa rugi karena kecepatan mereka memakan beras, lebih cepat dari saya. Alasan lainnya mungkin karena saya senang makan lauk saja. Hehehe. Bagi saya nasi hanyalah sesuatu yang tawar. Makanya saya lebih sering makan kentang dan pisang yang terkadang diselingi singkong dan kadang mie, pasta, atau soun. Mie, pasta, dan soun juga sebenarnya tawar tapi karena umumnya ketiga jenis makanan ini diolah bersama dengan bumbu, jadi saya suka. Untuk roti sendiri saya cenderung menghindari karena bikin saya ketagihan. Hahaha. Tahu sendiri kalau saya paling suka berkreasi. Kalau sudah pas, maka akan lagi, lagi, dan lagi, ujung-ujungnya jadi seperti cemilan yang mengenyangkan dan akhirnya menjadi malas seperti sehabis makan nasi dah. Hahaha. Ada segelintir candaan teman-teman katanya saya menyelamatkan negara dengan diversifikasi pangan. Hmmm... Nggak juga kata saya mah. Kan saya masih mengonsumsi terigu dan itu impor alias diversifikasi yang kurang tepat dan tidak menyelamatkan negara. Hahaha. Namun ada pembelaan dari oarang-orang yang iseng “meneliti” saya. Bagi mereka perbandingan saya mengonsumsi kentang dan pisang masih lebih besar dari mengonsumsi bahan makanan berbahan dasar tepung terigu. Kentang yang saya makan juga kentang sayur, bukan kentang tes yang impor. Whoaaaa... Waktu mendengar mereka berkata demikian saya merasa gimanaaaa gitu. Hahaha. Yang gimana-gimananya itu adalah kok ada orang yang ngak ada kerjaan sampai mau meneliti pola makan saya sampai bisa mencapai tahap suatu kesimpulan? Hahaha. Busy body... Hahaha.
Senin, 23 Januari 2012
MINGGU-MINGGU KOSONG
Minggu-minggu terakhir pengamatan, rasanya mood sangat berantakan. Ada saja masalah yang menghantui. Di mulai dari serangan hama, sumberdaya yang terbatas, kondisi fisik yang sedang tidak fit, hingga masalah relationship. Saya merasa sangat terbebani dengan semua itu. Apakah arti semua ini? Saya merasa punya banyak waktu tapi mengapa semua terasa aneh? Bahkan untuk menyusun kata-katapun rasanya sulit. Emosi saya cenderung kosong. Tak gembira tapi tak juga sedih. Rasanya ingin tidur di tempat yang sejuk dengan hembusan angin dan langit yang mendung. Entak mengapa hal itu selalu terlintas di kepalaku.
Langgan:
Entri (Atom)






